hitam-putih

I

Geng-geng bocah

Aku lahir pada awal tahun 1990. aku terlahir dengan nama denny. disini cerita hidupku dimulai, aku dilahirkan dari keluarga kalangan atas di daerahku. Rumahku berlantai tiga dengan 4 kamar tidur dan kolam renang kecil di belakang halaman rumahku. saat aku kecil apapun yang aku minta selalu dituruti, ayahku mempunyai beberapa perusahaan swasta yang cukup ternama di kotaku. Aku berdomisili di pinggiran selatan jakarta. Ibuku hanya seorang penikmat harta ayahku. Aku hanya anak tunggal. Kadang kadang ayahku tidak pulang selama berbulan-bulan untuk kepentingan kerja. waktu luang itu dipergunakan ibuku untuk shopping dan jalan-jalan dengan ibu-ibu sejenis yang kekurangan kasih sayang dari suaminya, aku tidak pernah tahu kemana ibuku pergi ketika ia bersama teman-temannya, yang aku tahu hanya ibu terlihat berjalan sempoyongan dan aroma alcohol semerbak di sekitarnya ketika sampai rumah dan kadang-kadang membawa seorang pemuda gagah kerumah, bahkan kekamar yang biasa ditiduri ayahku . Aku tidak pernah bilang kepada ayah. Aku takut itu akan hanya membuat ribut besar di keluargaku.

Ketika aku umur 6 tahun, aku bersekolah di sekolah yang terkenal dengan tempat anak-anak orang berada mencari ilmu. Pada awal aku masuk sekolah aku tidak bisa bersosialisasi. Aku memang kurang pergaulan pada masa kecilku, aku hanya bermain dengan baby sitter yang merawatku. Selain itu aku juga tidak suka perangai sebagian besar anak-anak di sekolah itu. Mereka sombong dan merasa mempunyai kuasa di sekolah itu. Mereka suka mengusili siswa yang tidak mau bermain dengan mereka, siswa yang pintar dan rajin di sekolah itu, tidak terkecuali aku. siswa yang dijahili hanya bisa diam karena mereka tahu yang menjahili sangat di segani dan kuat. Aku tidak menikmati bersekolah di sekolah ini. Tapi aku tidak pernah bilang kepada orang tuaku, aku memang orang yang sangat tertutup.

Pada umur 10 tahun aku mulai mencuri-curi waktu untuk keluar rumah, disaat ibu dan ayahku tidak ada di rumah, aku keluar dan mulai mencari teman, aku berjalan di kawasan kumuh dekat bantaran sungai yang tidak jauh dari rumahku, aku melihat anak-anak yang sangat ceria bermain di sungai. Salah satu dari orang itu menghampiriku, ia tidak suka aku berada di daerah itu karena alasannya aku orang kaya yang sombong dan tidak pernah menolong warga sekitar. Memang rumahku tidak jauh dari rumah mereka tinggal, rumahku terlihat dari rumah-rumah mereka yang hanya beralaskan tanah dan beratapkan seng-seng lusuh. Aku tidak pernah seceria mereka. Aku ingin sekali bergabung bermain dengan mereka. Mereka menolak dan mengusirku agar aku pulang. Tetapi aku terus membujuk agar bisa bermain dengan mereka. Akhirnya aku diizinkan bermain dengan mereka dengan syarat aku harus memberi mereka sejumlah uang untuk bergabung dengan mereka. Aku pun menyanggupinya. Aku memang orang yang kaya, tapi pengeluaranku selalu di awasi. Aku akhirnya mencuri uang ibuku yang di simpan di dalam lemari bajunya. Dan ibuku menyalahkan pembantu rumah tanggaku dan memecatnya.

Aku sering bermain dengan mereka. Mereka berjumlah 5 orang. Mari kita sebutkan satu persatu. Kevin, pria berumur 12 tahun yang putus sekolah dari kelas 4 SD, ayahnya hanya seorang penambal ban motor, ia mempunyai perangai yang lucu, suka ngebanyol dan bercanda. Rio, tidak pernah merasakan bangku sekolah, ia berumur 8 tahun dan anggota termuda digeng, ia yang selalu jadi korban teman-temannya untuk di suruh-suruh dan di bodohi. Johnny, 12 tahun, berbadan besar dan gemuk, tetapi ia sangat penakut dan pemalas. Bob,11 tahun, ia amat suka musik dan mempunyai cita-cita menjadi rock and roll star. Dan yang terlahir dan amat ditakuti, ramon, 13 tahun, ayahnya pereman pasar skitar dan di didik sangat keras oleh ayahnya.

Setelah aku bergabung aku di ajak ke tempat mereka berkumpul yang mereka sebut basecamp. Di sana terdapat satu sofa bekas yang sudah sobek-sobek yang mereka ambil dari tempat sampah. Di temboknya penuh dengan coretan nama-nama mereka. Di sudut-sudut ruangan terdapat botol-botol minuman keras bermerek murahan. Awalnya aku menyangka mereka anak lugu yang hanya tau bermain. Tetapi lingkungan yang keras membuat mereka hidup tanpa aturan dan semena-mena. Aku memang suka hidup yang lurus dan bermoral. Tetapi setelah aku berfikir aku bosan hidup penuh aturan. Aku menyalahkan orang tuaku yang tidak pernah peduli dengan aku. Ibuku saja bisa hidup senang-senang dan menyalahi aturan, jadi aku mencoba untuk mengikuti gaya hidup teman-teman baruku yang tidak beda jauh dengan moral ibuku. Walaupun teman-temanku tidak bergaya hidup mewah seperti ibuku, tetapi mereka tidak munafik dan tidak mengaturku seperti ibuku mengaturku layaknya diktaktor.

II

Ayah, ibu, dan teman

Aku mulai bolos sekolah untuk bermain dengan mereka. Aku ke basecamp untuk berkumpul dan bercengkrama dengan gengku. Ramon punya suatu rencana sore ini. Baru pertama ini aku tau bahwa geng ini suka membuat rencana-rencana untuk mengisi waktu senggang. Ramon malam ini mengajak kami membobol warung rokok kecil untuk mengambil beberapa bungkus rokok. Warung itu terdapat di utara basecamp kami dan bersebelahan dengan pasar. Aku menyanggupinya, padahal aku tahu aku tidak bisa keluar malam. Setelah membicarakan rencana itu kami semua pulang kerumah masing-masing.

Ibuku menanyakan bagaimana disekolah tadi dan aku hanya bilang “menyenangkan” dan aku langsung masuk kekamar tidurku yang berada di lantai dua. Aku memikirkan bagaimana caraku keluar dari rumah pada malah hari. Aku melihat jendela kamarku dan terdapat pohon yang tinggi terdapat di halaman depan tepat di depan jendela kamarku. Akhirnya aku tahu cara keluar rumah pada malah hari. Aku tidak sabar menunggu malam hari untuk menjalankan rencana tersebut. aku tidur agar waktu terasa lebih cepat. Aku memasang waker pukul 11 malam. Aku terbangun pukul setengah dua belas. Aku telat! Entah aku terlalu letih atau wakernya tidak berfungsi aku tidak bangun pada pukul 11. Aku memasukan guling kedalam selimut untuk mengelabui ibuku jika ia mengecek aku saat aku keluar. Aku loncat ke pohon besar itu. Ternyata pohon itu jaraknya sedikit jauh. Aku terpeleset dan hampir saja jatuh. Untungnya tangan kanan saya dapat meraih dahan pohon itu yang cukup besar. Jantung aku berdebar kencang, hampir saja aku jatuh. Aku bukan takut akan sakitnya jatuh, tapi aku takut ibuku terbangun dan melihat aku keluar rumah dari jendela. Aku menuruni pohon dengan hati-hati dan melompati pagar yang di ujungnya terdapat besi yang lancip. Yeah, aku berhasil keluar dari rumah.

Ketika aku sampai di basecamp, aku melihat johnny sedang tidur di sofa dan ramon yang sedang menghisap sebatang rokok. Ramon menunjukan raut muka yang sedikit marah karena aku terlambat. Dengan berbagai alasan akhirnya mereka memaafkan aku.

Kami pun berjalan menuju warung dekat pasar itu. Rio membawa sebatang linggis yang di bawa dari rumahnya. Memang ayahnya rio seorang kuli bangunan. Sesampainya di warung tersebut ramon memerintahkan aku dan bob untuk mengawasi sekitar sedangkan rio johnny kevin dan dia membobol warung. Aku mengawasi dengan seksama sekaligus mengobrol dengan bob. Aku tidak mengira bob mempunyai selera music yang amat tinggi. Ia sangat mengidolakan the beatles. Memang the beatles pantas sekali di idolakan karena mempunyai musikalitas yang tinggi. Bob juga mengutarakan cita-citanya untuk menjadi rock and roll star. Ia juga amat mahir bermain gitar. Aku meminta ia untuk mengajarkanku bermain gitar jika ada waktu luang, ia tersenyum bertanda bahwa ia setuju. 15 menit kemudian johnny kevin rio dan ramon menghampiri kami dengan lusinan rokok dan beberapa minuman bersoda di kantung kreseknya. Rencana pertama pun berhasil dan kita pulang ke basecamp. Di basecamp kami membagi hasil bobolan tersebut, kami masing2 dapat 4 bungkus rokok dan dua minuman bersoda. Mungkin minuman bersoda sudah tidak aneh lagi bagiku. Di kulkas rumahku ada berbagai macam merek minuman bersoda. Tetapi baru kali ini aku mencoba rokok. Selama ini aku hanya lihat bagaimana ibuku merokok secara diam-diam. Ayahku bukan perokok. Maka dari itu ibu tidak berani merokok di depan ayahku. Aku mulai membakar rokokku dan ketika menghisapnya aku terbatuk-batuk. Teman-temanku hanya tertawa-tawa dan berkata bahwa nanti aku akan terbiasa. Kami bercanda tawa sambil bernyanyi-nyanyi. Bob membawa malam itu sangat ceria dengan mengiringi kami dengan alunan lagu the beatles. Tepat pukul empat pagi pesta kami pun berakhir. Aku dengan segera pulang kerumah dan memanjat pohon lagi untuk sampai di kamarku.

Aku hanya tertidur sekitar satu setengah jam dan aku harus segera bangun untuk pergi kesekolah, dengan mata yang sayu aku sarapan di meja makan bersama ibuku. Ibuku sedikit curiga melihat mataku yang lelah. aku benci cara ibu menatapku, seakan-akan aku Cuma seorang manusia kecil yang harus mematuhi semua perintahnya padahal ia harusnya melihat betapa menyedihkan hidupnya. Ibu bertanya kepadaku kenapa aku terlihat lelah. Aku berbohong dan berkata kepadanya bahwa ada tugas matematika yang banyak sekali yang harus aku selesaikan tadi malam. Aku tahu ibu ingin sekali memarahiku tapi ia tidak ada alasan untuk itu.

Ketika aku di sekolah aku sama sekali tidak semangat blajar. Aku teringat betapa menyenangkannya tadi malam. bel istirahat pun berbunyi. Perutku yang sudah lapar memerintahkanku untuk segera membuka bekal yang di buatkan pembantu rumah tanggaku yang baru. Tetapi ketika aku makan anak-anak nakal di sekolahku menghampiriku. Ia berjumlah sekitar 8 orang yang dipimpin oleh satu jagoannya yang sering di panggil boy, entah nama aslinya atau hanya panggilan teman-temannya.

Tiba-tiba si boy mau melihat bekalku, ketika aku tunjukan bekalku. Si boy meletakan kecoa di atas telur dadarku. Kali ini aku muak dengan perbuatannya. Aku tidak perduli seberapa banyak anak-anak itu. Emosiku memuncak, aku lempar bekalku ke kepala boy dan memulai perkelahian. Sudah ketebak, aku kalah dalam perkelahian yang tidak adil itu, 8 : 1. kemeja sekolahku sobek dan mataku memar. Aku jadi sangat amat benci dengan boy dan kawan-kawannya. Ketika sampai di rumah ibu bertanya kepadaku kenapa bajuku sobek dan mataku memar. Aku mencari-cari alasan, aku berkata bahwa aku bermain bola dan tanpa sengaja temanku menarik bajuku dan aku terjatuh menghantam tiang gawang. Aku di marahi habis-habisan sepanjang hari itu.

Malam harinya aku kumpul lagi di basecamp bersama teman-temanku. Aku ceritakan semua yang terjadi di sekolahan siang tadi. Ramon sangat marah. Ia berjanji akan menghabisi boy besok setelah pulang sekolah. Aku diminta tidak usah ikut untuk menghabisi boy dan aku diminta seakan-akan tidak kenal dengan ramon dan kawan-kawan besok. Ramon takut aku akan terkena kasus di sekolah jika aku ketawan terlibat.

Esok harinya aku pergi kesekolah. Aku melihat boy dan kawan-kawan mengolok-olok aku dan mencaciku dengan kata “pecundang”. Aku hanya tersenyum dan berkata di dalam hati ,” kita lihat siapa yang akan jadi pecundang”. Pada bel istirahat kali ini aku tidak membawa bekal, tetapi aku membawa sebungkus rokok. Aku kekamar mandi dan mulai menghisap rokokku. Aku mulai handal merokok. Merokok membuat aku lupa akan rasa laparku.

Pulang sekolah pun tiba. Aku melihat ramon dan kawan-kawan di pintu gerbang. Ramon memegang stik baseball dan yang lainnya tidak memegang apa-apa. Aku pura-pura tidak mengenal mereka. Aku tidak perlu melihat si boy di habisi jadi aku putuskan untuk pulang kerumah.

Sesampainya di rumah ternyata ayahku sudah pulang dari luar kota. Ibuku terlihat seperti penjilat di depan ayahku. ibu memasak, cuci piring, dan tersenyum padaku seolah-olah sayang padaku. Malam itu aku di ajak makan malam bersama ayahku. aku merasa mendapat kasih sayang yang sebenarnya. Ayahku hanya singgah di rumahku sampai hari senin. Jadi ku putuskan aku tidak ke basecamp sampai hari senin dan melepaskan rasa rinduku pada ayahku.

Ayahku pun pergi lagi keluar kota. Dan aku harus bersekolah lagi. Sesampainya aku di sekolah aku tidak melihat boy di mana-mana. Di ruang kelas, dikantin, maupun di kamar mandi. Bel masuk pun berbunyi. Jam pertama adalah jam pelajaran kewarganegaraan. guruku mengumumkan bahwa boy skarang berada di ruang ICU di rumah sakit bunda asih. Katanya ia di pukuli sekumpulan berandal sepulang sekolah, keadaannya cukup memperihatinkan. Ia terkena gegar otak akibat hantaman benda tumpul dan seluruh tubuhnya memar-memar. Aku tersenyum dan berbicara dalam hati ,” jangan main-main denganku”.

Aku mulai berfikir boy tidak akan berulah lagi di sekolah. Sepulang sekolah guruku dan anak-anak lainnya menjenguk boy di rumah sakit, tetapi aku tidak. Aku tetap benci dengan boy walaupun dia berubah sekalipun.

bersambung...

-ruslikhwan-

0 comments:

Followers